BULELENG – Sejarah, tradisi, dan budaya masyarakat Muslim Tegallinggah seperti tertuang dalam buku “Islam Tegallinggah Bali, Sejarah, Budaya dan Keteladanan” dirancang untuk masuk dalam muatan lokal. Nantinya itu diajarkan di sekolah, madrasah dan pesantren yang ada di Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Buleleng.
Untuk persiapan tersebut, Kamis (16/1/2025), dilaksanakan Sosialisasi Tindak Lanjut Buku Islam Tegallinggah Bali oleh Tim Peneliti Sejarah Islam Tegallinggah (PSIT). Acara yang difasilitasi Seksi Pendis Kemenag Buleleng tersebut dilaksanakan di MIN 3 Tegallinggah, dengan Ketua Pelaksana Baitullah, yang juga Kepala Madrasah Aliayah (MA) Syamsul Huda dan tokoh muda Tegallinggah.
Acara melibatkan semua lembaga pendidikan formal dan informal se-Desa Tegallinggah. Kasi Pendis Kemenag Buleleng, H. Lewa Karma, M.Pd., membuka acara, dengan narasumber Ketua Tim PSIT, Samsul Hadi, dan anggota PSIT.

Kasi Pendis Kemenag Buleleng, H. Lewa Karma, menjelaskan, acara tersebut dalam rangka sosialisasi dan menggali masukan dan saran dari semua peserta yang hadir. Tujuannya untuk mengoptimalkan program penulisan sejarah dengan menginventarisasi berbagai catatan dari peserta sebagai bahan kajian lebih lanjut oleh PSIT.
Kasi Pendis mendorong semua pimpinan lembaga agar memasukan sejarah Muslim Tegallinggah dalam muatan Lokal sesuai dengan relevansi jenjang atau tingkatannya.
“Ke depannya, semua harus bertanggungjawab secara moral untuk memberikan informasi kepada anak didik tentang sejarah Islam Tegallinggah, sehingga semua tradisi dan kearifan lokal bisa menjadi panduan hidup bermasyarakat di masa mendatang,” ujar H. Lewa Karma.
Penasehat PSIT, Jaelani, menjelaskan tentang asal mula kedatang komunitas Muslim di Desa Tegallinggah serta beberapa peninggalan. Seperti Masjid Nurul Ilahi dan kuburan Muslim Tegallinggah dengan pohon-pohon kambojanya.
Muslim Tegallinggah awalnya merupakan orang-orang Bugis yang masuk lewat swan kapal di Desa Tukadmungga. Orang-orang Bugis ini pernah membantu Raja Panji Sakti saat melakukan penyerangan ke Kerajaan Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur. Namun, orang-orang Bugis bukan sebagai anggota pasukan tentara, melainkan membantu dalam pengobatan dan akomodasi para prajurit Raja Panji Sakti.
Sementara Ketua Tim PSIT, Samsul Hadi, menjelaskan beberapa tradisi dan budaya yang pernah ada dan yang masih ada di Komunitas Muslim Tegallinggah. Misalnya ada tradisi nyure, nyapar, maulid, isra’ mi’raj, nisfu sya’ban, tadarus Ramadhan, halal bi halal dan qurban. Ada juga tradisi meselametan, ngejot, madelokan.
Dalam perkawinan misalnya, menurut Samsul Hadi, ada beberapa tradisi seperti nyekenin, tradisi ngidih dengan base, ngidih dengan jaja bantal, dan seterusnya. “Tradisi-tradisi tersebut dilestarikan dan dihidupkan kembali di tengah masyarakat,” tegasnya.
Dalam diskusi tersebut juga muncul masukan dan saran dari para peserta. (bs)

