Malu Kalau Calon Gubernur dari Buleleng, Kalah di Buleleng, Koster Target Menang Minimal 60 Persen

BULELENG – Calon Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan, lek atine (malu rasanya-red) kalau calon gubernurnya dari Buleleng justru kalah di Buleleng. Oleh karena itu, Koster meminta dukungan masyarakat Buleleng untuk memilih dirinya dan pasangannya, Nyoman Giri Prasta, pada Pilkada Bali 27 November 2024 nanti. 

Koster menargetkan menang di Buleleng dengan persentase 60 persen. “Untuk di Kabupaten Buleleng minimal 60 persen,” menjawab wartawan usai simakrama dengan Suka Duka Satria Muda Majapahit di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Selasa (22/10/2024).

Acara simakrama di rumah Ketua Suka Duka Satria Muda Majapahit Buleleng, Jro Budi Hartawan, tersebut dihadiri sejumlah tokoh. Acara diawali sembahyang bersama, dipimpin pedanda. Termasuk calon Bupati dan Wakil Bupati Buleleng, dr. Nyoman Sutjidra, Sp.OG, dan Gede Supriatna, SH.

Dalam pidatonya, Koster memaparkan apa yang dilakukannya saat menjabat Gubernur Bali pada periode pertama. Menurutnya, dirinya berusaha menyeimbangkan pembangunan Bali utara dan selatan. “Semua berjalan dengan baik dan lancar, meskipun dalam suasana Coivd yang lamanya 2 tahun,” jelasnya.

Untuk Buleleng, kata dia, saat dirinya menjadi Gubernur, telah membantu pembangunan Taman Bung Karno di Sukasada, yang dananya 50 persen lebih dari APBD Provinsi Bali. Juga pembangunan Pasar Banyuasri, Koster lewat APBD Provinsi Bali membantu Rp 50 miliar. Selain itu, penyaluran air dengan pipa dari Air Sanih ke wilayah timur, juga menggunakan anggaran dari APBD Provinsi Bali. 

“Pembangunan Mal Pelayanan Publik juga menggunakan APBD Provinsi Bali. Dan yang besar adalah pembangunan shortcut dari Singaraja ke Mengwi,” katanya. 

Menurut Koster, dulu pembangunan shortcut hanya jadi cerita dan dibicarakan setiap pilkada. Tidak ada yang bisa mewujudkan. “Ketika saya jadi Gubernur Bali, itu bisa diwujudkan. Karena membutuhkan anggaran yang sangat besar. Belum selesai seluruhnya. Sekarang sedang dibangun, Desember 2024 selesai,” kataya.

Pada 2025, juga akan dilanjutkan pembangunan shortcut titik 9 dan 10. Selesai 2026. “Jadi gampang nanti perjalanan dari Singaraja ke Denpasar atau sebaliknya. Gak perlu lagi lekak lekok. Gak pakai mules lagi dan tidak nyaman. Sekarang sangat bagus dan indah,” katanya.

Dikatakan Koster, kalau gubernurnya tidak punya kemampuan mencari anggaran dan tidak tahu cara memperoleh anggaran, pembangunan shortcut tidak bisa. 

“APBD Bali mengeluarkan Rp 200 miliar untuk pembebasan lahan. APBN sudah mengeluarkan Rp 700 miliar untuk pembangunan konstruksinya. Tahun 2027 tuntas sampai di Padangbulia, menyeberang ke Ambengan, dihubungkan dengan jembatan yang panjang. Jadi nanti bisa satu jam ke Denpasar,” ujar Koster. 

Selain itu, kata dia, supaya Buleleng tidak lagi blankspot, dirinya pada periode pertama membangun tower. Supaya warga Buleleng tidak pakai parabola lagi untuk menonton. Sekarang sudah dibangun tower yang lengkap, yakni Turyapada Tower.

“Ini juga akan menjadi kawasan pariwisata. Di tower ini ada planetarium, restoran putar, ada jembatan kaca, ada tempat rekreasi. Ini akan menjadi kawasan pariwisata yang paling terkenal di Bali bahkan Indonesia. Akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Bali utara. Juga akan membuka lapangan kerja, PAD Buleleng akan meningkat,” jelasnya.

Koster juga akan membangun Pelabuhan Sangsit menjadi pelabuhan perikanan, penumpang dan pariwisata. “Itu akan menjadi kawasan ekonomi baru di Buleleng,” kata Koster.

Menurut dia, kalau melihat pencapaian pembangunan di periode pertama dirinya menjadi Gubernur Bali, rasanya tidak perlu berpikir lagi untuk memilih Koster. Apalagi, tambah dia, dirinya berpasangan dengan Nyoman Giri Prasta. 

“Apalagi titiyang dari Buleleng. Semestinya orang Buleleng memilih Gubernur Bali yang dari Buleleng,” tandasnya. 

Koster dengan yakin mengatakan, bahwa pasangan Koster-Giri dipastikan memang di Kabupaten Gianyar, dengan angka yang tinggi. Juga pasti menang di Kabupaten Badung. Di Kabupaten Tabanan, pasangan ini juga pasti menang. Di Kabupaten Bangli juga pasti menang dengan persentase yang tinggi. Di Kabupaten Klungkung juga pasti menang.

Demikian juga di Kabupaten Karangasem, dan di Kabupaten Jembrana juga pasti menang. “Masak di Buleleng sing menang. Lek atine, Gubernur-ne uling Buleleng. Jangan yang lain. Pang pragat dua periode, baru memikirkan yang lain ke depan,” tegasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *