- Singaraja Literary Festival 2024 Hari Kedua
BULELENG – “Sebetulnya fiksi menjadi jembatan yang sempurna antara sains dan imajinasi. Kelindan antara sains dan imajinasi memang punya jembatan yang sempurna dalam fiksi.”
Demikian antara lain kutipan-kutipan bernas yang disampaikan penulis Dewi (Dee) Lestari, pada diskusi panel bertajuk “Filsafat, Sains dan Sastra” serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 hari kedua di venue Museum Buleleng, Singaraja, Sabtu (24/8/2024).
Diskusi panel tersebut dipandu dr. Putu Arya Nugraha, dengan narasumber selain Dee Lestari juga Henry Manampiring, penulis buku filsafat dan juga sastra.
Namun, menurut Dee Lestari, meskipun karya fiksi bisa melunturkan batas-batas atau rumusan-rumusan baku dalam sains, dia harus tetap masuk akal.
Artinya, timpal dr. Arya Nugraha yang juga penulis beberapa buku ini, “Sefiksi-fiksinya cerita yang kita buat harus masuk akal.
Sementara sejak dibuka secara resmi, Jumat (23/8/2024) malam, Singaraja Literary Festival 2024 hari kedua tampak semakin ramai dan meriah. Bukan saja karena seni pertunjukannya, pula program-program lain seperti workshop, panel, dan lomba baca puisi. Hampir di setiap program selalu diserbu pengunjung, khususnya panel-panel yang diisi oleh Dewi (Dee) Lestari dan Henry Manampiring—dua penulis Ibu Kota yang tahun ini ikut membagi pengetahuan di SLF.
Di SLF hari kedua ini terdapat 14 program yang terbagi di empat tempat yang berbeda walaupun masih dalam satu kawasan. Pagi hari sampai siang, di Sasana Budaya sedang berlangsung lomba baca puisi untuk siswa SMP se-Buleleng. Satu jam saat lomba baca puisi berlangsung, panel diskusi “Filsafat, Sains, dan Sastra” dimulai di kawasan Museum Buleleng. Panel ini mendaku Dee Lestari dan Henry Manampiring sebagai pembicara. Sedangkan dr. Putu Arya Nugraha dipacak sebagai moderator.
Menjelang pukul satu siang, di Gedong Kirtya Susanta Dwitanaya dan Purwita Sukahet sedang dipandu Savitri Sastrawa dalam panel diskusi “Warna Alam dalam Teks Lama dan Baru”. Dalam waktu yang bersamaan, di Sasana Budaya dan Museum Buleleng, panel diskusi juga sedang berlangsung. Di Sasana Budaya, Efflina Lailufa dan Maria Ekaristi sedang menyampaikan materi dengan tema “Berguru pada Kekuatan Perempuan Marjinal dalam Teks Lama dan Baru”. Sedangkan di Museum Buleleng dr. Putu Arya Nugraha dan Ayu Gayatri menyampaikan banyak hal tentang rempah-gastronomi dalam panel diskusi “Khazanah Rempah, Makanan, dan Obat bagi Raga”.
Beranjak ke Sasana Budaya, pada pukul empat sore, panel diskusi “Kekuatan Ibu Bumi dalam Teks Lama dan Baru” berlangsung dengan serius. Prof. Dr. Sendratari dan I Made Andika Putra, yang didaulat sebagai pembicara, sama-sama menyajikan materi dengan referensi-referensi yang kuat. Seolah tak mau kalah, peserta diskusi juga banyak bertanya dan memberikan sesuatu yang lain dengan kritis. Di Museum Buleleng diskusi tak kalah seru. Purnamasari dan Indah Darmastuti mendedah “Perempuan, Lingkungan, dan Segala tentang Dunia” dengan kritis dan mendalam. Sedangkan Rio Wedayana dan Wayan Sukrata memaparkan nilai-nilai, kearifan Tenganan dan Pedawa dalam panel “Merawat Ibu Bumi untuk Keberlangsungan Peradaban” di Gedong Kirtya.
“Di hari kedua ini kami juga menambah satu program khusus untuk anak-anak, yaitu Free Kids Corner. Dalam program tersebut terdapat banyak sekali kegiatan, mulai dari mendongeng, games, mewarnai, bernyanyi, belajar menulis cerita, dan membuat origami. Program ini khusus untuk anak TK dan SD. Kenapa harus ada program ini, karena, menurut kami, anak-anak juga memiliki hak untuk berpartisipasi di SLF tahun ini,” ujar Kadek Sonia Piscayanti, Direktur SLF, di sela-sela kesibukannya, Sabtu (24/8/2024).
Hadirnya program khusus anak ini menandai bahwa SLF 2024 bisa mewadahi segala umur. Dan ini penting ditandai bahwa menyediakan ruang anak yang aman, nyaman, dan menumbuhkan di ruang publik adalah sebuah keharusan.
Sebelum ditutup oleh pertunjukan teater Kelompok Pojok dari Jakarta—yang menampilkan naskah Tabuhan 4/4 Luh dengan sangat spektakuler, pada malam hari, acara hari kedua ini dimeriahkan oleh penampilan dari kolaborasi sembilan seniman dari Bali Utara (Singaraja), pemutaran film dokumenter Perempuan Tana Humba (2019), dan pemutaran film Arsip 1928 yang menampilkan “wajah” Bali pada awal abad ke-20.
Tahun ini, SLF didukung oleh LPDP melalui Dana Indonesiana Kategori Pendanaan Ruang Publik Direktorat Kebudayaan Kemendikbudristek. Dan dalam SLF ke-2 yang dilaksanakan pada tanggal 23 sampai 25 Agustus 2024 di kawasan Gedong Kirtya Singaraja ini mendatangkan penulis dan sastrawan ternama di Indonesia, seperti Dewi (Dee) Lestari, Aan Mansyur, Willy Fahmy Agiska, dan Henry Manampiring.
Juga para akademisi, sastrawan, seniman, budayawan Bali yang tak lagi dipertanyakan kredibilitasnya, di antaranya, Sugi Lanus, Ayu Laksmi, I Ketut Eriadi Ariana, Marlowe Bandem, Andre Syahreza, Made Sujaya, Mas Ruscitadewi, I Wayan Juniarta, Oka Rusmini, Saras Dewi, Eka Guna Yasa, Putu Kusuma Wijaya, Made Suarbawa, Olin Monteira, Putu Satria Kusum, Darma Putra, dan masih banyak lagi. (bs)

