Pemuda Muhammadiyah Bali Buka Ruang Diskusi Tentang Dakwah dan Budaya

DENPASAR – Pemuda Muhammadiyah Bali buka ruang diskusi bertajuk “Menggembirakan Dakwah, Merekatkan Budaya” pada Minggu (11/12/2022). Kegiatan yang bertempat di Aula SMP Muhammadiyah 2 Denpasar itu dihadiri ratusan kader se-Bali.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Bali, M. Syobri, menyampaikan, diskusi yang dikemas dalam acara seminar tentang dakwah dan budaya ini sangat penting. Menurutnya, implementasi dakwah kultural terkadang masih banyak mengundang pertentangan.

“Seminar ini menjadi salah satu ruang untuk berdiskusi seputar budaya yang berkaitan juga dengan dakwah. Sebagaimana semangat kita bersama untuk menggembirakan syiar dakwah Islam Berkemajuan,” ungkap Syobri.

Ia menjelaskan, dalam seminar kali ini pihaknya menghadirkan Machendra Setyo Atmaja sebagai pembicara utama dan Tatang Wisnu Wardhana tokoh muda dari Bali.

Turut hadir dan meramaikan seluruh anggota Pemuda Muhammadiyah yang ada di Bali. Selain itu juga mengundang Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) seperti NA, IMM, dan IPM. Termasuk perwakilan dari Amal Usaha Muhammadiyah se-Kota Denpasar.

“Alhamdulillah, banyak peserta seminar yang antusias untuk mengikuti acara dari awal sampai selesai,” ujar Syobri.

Pemuda Muhammadiyah Bali berkomitmen akan melanjutkan agenda serupa. Hal tersebut seperti disampaikan oleh Yon Eko Saputro selaku Bendahara Pemuda Muhammadiyah Bali.

“Kami sangat bersyukur, dengan terselenggaranya seminar ini banyak insight baru terkait dakwah dan budaya. Tentunya ini sangat positif sekali untuk mewujudkan dakwah yang menggembirakan di Bali pada khususnya,” kata Yon, panggilan akrabnya.

Ia berharap bukan hanya Pemuda Muhammadiyah yang menyadari pentingnya membuka ruang dialog. Terutama yang berkaitan dengan budaya. “Sebagai bagian dari Muhammadiyah, maka kita harus inklusif dan bersama-sama mengimplementasikan dakwah yang menggembirakan,” imbuhnya.

Selain antusias peserta, penyelenggaraan seminar mendapat apresiasi langsung dari Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bali, H. Aminullah. Ia sangat mendukung forum dialog untuk mencari titik temu dalam rangka menggembirakan dakwah.

“Hadirnya budaya itu bagaimana kita bisa mengembangkan potensi dakwah kita ini. Jangan merasa kita yang paling benar. Karena dakwah bisa dikembangkan melalui budaya,” tutur H. Aminullah.

“Saya melihat, adanya budaya ini memang bagian dari strategi dakwah,” pungkasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *