RUMAH PANGGUNG LOLOAN, IKON UNIK DARI BALI BARAT

IKON unik abad ke-17 Masehi yang masih dapat kita jumpai di Jembrana Bali Barat, adalah rumah panggung dan juga Omong Kampung atau yang lebih dikenal dengan nama bahasa Loloan.

Rumah panggung sebagai uniqum peninggalan sejarah khas Melayu Bali yang lebih dikenal dengan nama Loloan, masih terdapat di dua kelurahan, Loloan Barat, Kecamatan Negara dan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana. Dua kampung Loloan ini hanya terpisah oleh sungai Ijogading yang membelah keduanya.

Bicara tentang rumah panggung Loloan yang merupakan monumen dan saksi bisu perkembangan sejarah Jembrana tempo dulu. Sekitar tahun 1669 Masehi rumah panggung Loloan banyak dibangun ditepian sungai ijogading disekita kawasan Bandar Pancoran, semasa di Jembrana dibawah pemerintahan Raja Pancoran IV.

Karakteristik unik dari rumah panggung Loloan yang cukup khas ini ditopang oleh tiang tiang utama dari kayu tangi. Keunikan pertama rumah panggung Loloan dapat dilihat dari bentuk tiang-tiang tersebut tidak halus dan kasar, artinya dibuat secara manual dengan menggunakan alat yang bernama kapak miring yang sering disebut timpas.

Jumlah tiang penyangga rumah panggung ada yang berjumlah 12 buah tiang, 16 buah tiang dan 20 buah tiang penyangga. Rata-rata tinggi-tiang rumah panggung yaitu 4 – 5 meter.

Posisi tiang berjajar 4 buah tiang, dengan 4 – 5 baris ke belakang. Jarak antara tiang satu dengan lainnya berjarak 2.5 meter. Pondasi atau sendi tiang terbuat dari batu karang, dengan tinggi umumnya 30 cm.

Keunikkan kedua dari rumah panggung Loloan ini sama sekali tanpa menggunakan paku yang kita kenal sekarang, melainkan menggunakan pasak kayu sebagai pengunci setiap sambungan. Sehingga memudahkan dalam bongkar dan pasang (sistem knock down).

Keunikan ketiga dari rumah panggung Loloan ini memiliki bagian atau denah terdiri dari 3 bagian. Sesuai urutan bagian rumah panggung Loloan dari bawah ke atas yaitu sebagai berikut:

1. Kolong, adalah bagian dasar rumah panggung (sering disebut bawah kolong, tempat menyimpan peralatan, cangkul, parang, dll).

2. Geladak, bagian tengah dari rumah panggung (bagian utama, terdiri dari serambi, ruang tamu, ruang tidur/bilik, dan ruang makan yang menyatu dengan dapur).

3. Loteng/pare-pare, bagian atas rumah panggung (tempat menyimpan peralatan seperti senjata- senjata pusaka, dll).

Keunikan keempat dari rumah panggung Loloan adalah memiliki sirkulasi udara yang cukup segar dan sehat, dengan ventilasi jendela tanpa daun di sisi kanan dan kiri dinding rumah panggung, jendela persegi empat dibatasi kayu kayu kecil yang disebut jaro jaro dalam bahasa loloan, jendela ini dikenal dengan nama Tontongan.

Keunikan kelima dari rumah panggung Loloan, yaitu memiliki tangga dengan jumlah anak tangga 5 – 7 anak tangga untuk (keturunan Bugis) dan 9 anak tangga (keturunan Melayu). Dari jumlah anak tangga maka dapat diketahui juga bahwa pemilik rumah panggung mempunya status sosial yang cukup terpandang kala itu.

Pada kisaran tahun 1696 Masehi sungai Ijogading terjadi banjir besar yang mengakibatkan seluruh pemukiman di sekitar pinggir sungai Ijogading terendam air, rumah panggung Loloan dapat bertahan dari banjir besar tersebut.

Kemudian rumah panggung Loloan mendapatkan pengujian kembali dari alam pada tahun 1976 Masehi saat gempa bumi dengan 6.5 scala richter melanda Kabupaten Jembrana, rumah panggung saat itu bergoyang hebat selama beberapa menit, akan tetapi tidak sampai roboh.

Kondisi saat ini rumah panggung Loloan, baik di timur sungai (kelurahan Loloan Timur) maupun di barat sungai (kelurahan Loloan Barat), sudah banyak yang berkurang. Hal ini disebabkan karena para pemilik terpaksa menjual karena harus membagi warisan rumah panggung tersebut, dan juga kurangnya perhatian dalam merawat maupun memelihara rumah panggung karena dibutuhkan biaya ataupun dana yang cukup besar dalam hal perawatan tersebut dalam setiap tahunnya bagi para pemilik rumah panggung.

Setiap tahun dengan semakin berkurangnya jumlah keberadaan rumah panggung yang dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi dari masing-masing pemilik rumah panggung yang tersisa saat ini kurang lebih sekitar 60 unit rumah panggung Loloan. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *