Berburu “Gen Super” dengan “Local Genius” Bali

  • Undhagi Bali yang Terakhir …… Bagian 2

Oleh Ir. Suprio Guntoro 

SETELAH berada di Bali lagi, saya segera berupaya membuktikan kebenaran statement-nya Pak Habibie. Saya ingin fokus menggali “local genius” Bali yang ada dalam sistem subak. Untuk itu, saya segera menemui sahabat kakak saya, seorang Pekaseh (Kelian Subak) Semila (Denpasar), Pak Made Regog.

Beliau saya ajak diskusi tentang subak. Tapi sayang pengetahuannya tentang subak tidaklah terlalu dalam, sehingga banyak pertanyaan saya yang tidak terjawab.

Apa yang dia ketahui, saya juga sudah tahu. Sedang apa yang belum saya ketahui, dia juga tidak tahu. “Saya mesti menemui pekaseh yang lebih dalam ilmunya, agar saya bisa menemukan nilai local genius dalam subak,” kata saya dalam hati.

Saya lantas meminta nama-nama dan alamat para pekaseh yang dikenal oleh Pak Made Regog. Saya pun mendapat nama dan alamat para pekaseh yang ada di Denpasar dan Badung. Saya berupaya mencari dan menemui mereka dan berdiskusi dengan mereka satu per satu. Tapi hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil diskusi saya dengan Pak Made Regog.

Rata-rata pengetahuan tentang subak para pekaseh yang saya temui, tidak ada yang “istimewa”. Hanya segitu-gitu saja. “Saya mesti bertemu dengan pekaseh yang hebat, yang pengetahuannya tentang subak amat luas dan dalam.

Maka saya menemui Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, yang waktu itu adalah Drs. Ketut Suweca. Saya sampaikan keinginan saya untuk bisa bertemu dan berdiskusi dengan seorang pekaseh senior, yang pengetahuannya tentang subak melampui pengetahuan rata-rata pekaseh yang lain.

Setelah berfikir beberapa lama, Kepala Dinas Kebudayaan itu menyatakan agar saya menemui seorang pekaseh yang istimewa, yaitu Pekaseh Subak Bunutin, Desa Bunutin, Kecamatan Kintamani, Bangli.

Nang Pelung

Namun Pak Ketut Suweca menyarankan saya, sebelum ke Kintamani agar saya lebih dahulu ke Museum Subak di Tabanan untuk lebih mengenal profil pekaseh istimewa yang biasa djpanggil Nang Pelung itu. Saya pun datang ke Museum Subak di Tabanan dan menemukan informasi tentang Nang Pelung.

Saya sangat senang, karena saya merasa, sosok semacam inilah yang saya cari-cari. Beliau selain seorang ketua subak, juga mantan kepala desa, dan seorang pejuang. Nang Pelung adalah salah satu ajudan Pahlawan Nasional dari Bali, yakni I Gusti Ngurah Rai. Disamping itu, Nang Pelung juga dikenal sebagai seorang undhagi.

Undhagi merupakan sebutan bagi seorang arsitek tradisional Bali. Sebagai arsitek dalam sistem subak, Nang Pelung memiliki keahlian dalam merancang dan membuat “awungan“, yakni terowongan air. Ini menunjukkan bahwa Nang Pelung bukan orang sembarangan.

Setelah menembus hutan pinus dan cemara sejauh sekitar 10 km dari Pasar Kintamani, maka saya pun memasuki Desa Bunutin. Situasi desa ini sangat unik. Suasananya asri, alami dan tenang. Rumah-rumah berdiri, berderet dengan arsitektur yang kental dengan nuansa Bali. Setiap rumah selalu ada angkul-angkul dengan ukiran khas Bali. Tampak halaman-halaman rumah bersih dan tertata rapi.

Mengingatkan susana pedesaan Bali tahun 60-70-an. Setelah sempat bertanya sekali kepada seseorang, maka rumah Nang Pelung saya temukan. Tapi Nang Pelung sedang tidak ada di rumah. Beliau sedang menghadiri sangkep di bale subak. Istrinya, segera menyuruh anaknya untuk menyusulnya.

Dengan ditemanii pisang goreng dan kopi hangat, saya pun terus mencecar dengan berbagai pertanyaan kepada Nang Pelung. Dan Nang Pelung pun menjawabnya langsung dengan jawaban-jawaban yang membuat saya terhenyak dan tercengang. Karena jawabannya mengandung informasi dan pengetahuan yang baru buat saya, yang selama ini saya cari-cari, untuk menemukan nilai “local genius” Bali.

Harus saya akui bahwa masyarakat Bali memiliki “local genius” yang menakjubkan. Bayangkan! Jika orang Barat atau masyarakat lain di luar Bali, untuk mengalirkan air bila terhalang oleh perbukitan, maka akan dibuatlah bendungan dan dam (pengatur ketinggian air). Dalam berbagai kasus, dengan dibuatnya bendungan untuk menahan air agar permukaannya naik, maka beberapa kampung atau desa terpaksa harus mengungsikan penduduknya karena kampung atau desa tersebut akan tenggelam akibat genangan air yang terbendung bendungan.

Bila aliran air yang terhalang oleh perbukitan, maka masyarakat Bali tidak membuat bendungan, tetapi akan membuat terowongan pada perbukitan itu agar air bisa mengalir sampai ke balik bukit. Dan yang membuat para sarjana Barat terkagum-kagum pada terowongan yang dirancang dan dibuat oleh para undhagi itu, dalam kurun waktu berabad-abad tidak ada yang longsor atau ambles.

Ini sungguh mengagumkan. Mengapa itu terjadi? Karena setiap undhagi punya kemahiran dalam menentukan letak pintu (mulut) terowongan dan menentukan pintu (lubang) akhir terowongan, tempat keluarnya air dengan tepat, dengan mempertimbangkan “tanda-tanda alam.” Sungguh ini merupakan hasil kecerdasan yang luar biasa.

Bentuk-bentuk kecerdasan lain masih banyak. Dahulu, di abad 10-11-an, ketika manusia belum menemukan jam (pengukur waktu), maka masyarakat Bali (subak) sudah bisa mengukur waktu tanpa menggunakan jam. Tapi dengan menggunakan air.

Meskipun zaman itu belum ada peralatan pengukur debit air, namun masyarakat Bali (krama subak) telah menemukan cara, untuk membagi air dari saluran tertier ke sawah, buat para krama subak yang jumlahnya ratusan KK dengan pemilikan sawah yang luasnya berbeda-beda, secara adil. Sehingga tidak menimbulkan sengketa.

Inilah salah satu kecerdasan lokal dalam subak yang tidak bisa ditemukan dalam sistem manajemen air oleh masyarakat lain di luar Bali.

Saat itu (2002), usia Nang Pelung mencapai 94 tahun. Namun badannya masih tampak segar dan kekar. Masih suka bersepeda dan mampu berjalan kaki sejauh 10 km atau lebih. Masih sanggup naik-turun tangga dari sebatang bambu untuk mengontrol aliran air di dasar sungai yang amat curam.

Punya 7 Istri dan 28 Anak

Dalam usia 94 tahun, Nang Pelung telah mengalami 7 kali perkawinan dan dikaruniai 28 orang anak dan 36 cucu. Hingga berusia 94 tahun, sudah belasan terowongan air yang dia buat. Terowongan yang terpanjang berada di Kabupaten Gianyar, yang panjangnya mencapai 14 kilometer.

Salah satu tantangan berat dalam membuat terowongan yang panjang adalah terjadinya krisis oksigen yang sangat membahayakan para pekerja. Tetapi Nang Pelung dan para krama subak memiliki cara cerdas untuk mengatasi kekurangan atau kehabisan oksigen di dalam terowongan secara cepat dan tepat.

Kenangan yang paling berkesan dengan Nang Pelung, bagi saya, yaitu pada saat saya membuat film dokumenter tentang subak, yang akan diikutkan lomba oleh YAPADI (Yayasan Padi Indonesia). Berhari-hari saya mengikuti kegiatan Nang Pelung sebagai ketua subak. Termasuk ikut mengintai dan menangkap seorang krama (anggota subak yang sedang mencuri air di malam hari. Dan bagaimana Nang Pelung mengadili dan menjatuhkan sanksi kepada si pencuri air.

Sungguh saya bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan saya dengan Nang Pelung, sehingga menambah pengetahuan saya tentang local genius Bali dalam organisasi subak. Dua tahun kemudian (2004), Nang Pelung meninggal. Saya sedih mendengar Nang Pelung meninggal.

Saya sedih mendengarnya, karena dia adalah undhagi Bali yang terakhir. Beliau pernah bilang kepada saya, bahwa tidak seorang pun dari anak dan cucunya serta para sahabatnya yang mau belajar dan melakoni hidup sebagai seorang undhagi.

Untuk mengenang Nang Pelung, saya abadikan kisah hidupnya dalam skenario untuk film dengan judul “Cinta Sang Undhagi”. Pada akhir tahun 2005, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menyelenggarakan lomba penulisan skenaro film layar lebar. Skenario film tentang kisah hidup Nang Pelung itu saya sertakan dalam lomba tersebut. Alhamdulillah, dari 564 skenario yang masuk ke panitia, naskah skenario saya berhasil menduduki peringkat 4 (juara harapan). (Bersambung)

*) Penulis adalah Ketua Lab Inovasi Ulul Albab Denpasar, Pakar Eco-Tecno Farming

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *