Asal Usul Orang Bugis di Nusantara, Khususnya di Buleleng, Bali Utara

Esai Sejarah Dodi Irianto                                    Bagian 2 – Habis

Masuknya Perantauan Bugis Makassar ke Bali

Penelitian sejarah paling mutakhir tentang diaspora orang-orang Bugis Makassar dan Mandar di pulau Bali (Khusyairi dkk, 2017 dalam Sabara, 2018) menyebutkan bahwa perantauan orang-orang Bugis Makassar dan Mandar ke pulau Bali merupakan sejarah panjang dengan rentang waktu tiga abad dimulai sekitar abad ke-16 hingga abad ke-18. Migrasi ini terutama dipicu oleh kekacauan politik yang berkepanjangan di wilayah Sulawesi Selatan.

Hilangnya jaminan penghasilan dan kesejahteraan petani dan ketentraman di kampung halaman akibat penaklukan Belanda di wilayah Sulawesi Selatan memicu derasnya arus migrasi ke berbagai wilayah yang lebih aman. Orang-orang Bugis adalah salah satu etnis di Indonesia yang memiliki tradisi merantau yang telah mendarah daging.

Dengan daya adaptasi yang tinggi terhadap alam dan lingkungan baru dimana mereka mendarat dan bermukim, mereka membentuk kelompok-kelompok masyarakat mulai dari daerah pesisir hingga ke wilayah-wilayah yang lebih jauh ke dalam daratan. Kegiatan kehidupan mereka meliputi pelayaran, perdagangan, pertanian, hingga membuka hutan untuk dijadikan wilayah perkebunan.

Perantauan perahu-perahu Bugis Makassar sudah berlangsung sejak abad ke-16. Dalam jaman itu ada rangkaian peperangan antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, yang disambung dengan peperangan-peperangan melawan Belanda hingga abad ke-19. Demikian telah ada suatu keadaan tak aman sejak lebih dari 3 abad lamanya yang menyebabkan perantauan itu pindah ke daerah-daerah pantai Timur dan Utara Sumatera, pantai Barat Malaya, pantai Barat dan Selatan Kalimantan (orang Bugis Pegatan), Banten, Jawa Barat, Pasuruan Jawa Timur, Badung Bali, terakhir Air Kuning Jembrana yang selanjutnya ada bermukim di daerah Buleleng.

Masuknya Suku Bugis Makassar di Jembrana

Masuknya orang-orang Bugis Makassar tahap pertama di Jembrana terjadi dalam dua gelombang. Sumber-sumber lokal dan tulisan-tulisan milik Alm. Datuk Haji Sirad Kampung Cempake, Loloan Barat yang berjudul “Hikayat Islam di Jembrana Tahun 1935” yang berhuruf Arab berbahasa Melayu (tulisan Arab Pegon) menyatakan bahwa kedatangan orang-orang Islam suku Bugis Makassar di Jembrana berlangsung dalam dua gelombang.

Gelombang pertama pada tahun 1653 – 1655. Penyebab migrasi pada gelombang pertama ini adalah rangkaian peperangan antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Gelombang kedua pada tahun 1660 – 1661. Perpindahan gelombang kedua terjadi sewaktu berlangsung peperangan antara Makassar dan VOC (kompeni Hindia Belanda).

Setelah Makassar jatuh pada tahun 1667, armada Spellman (Belanda) dan Arung Palaka mengejar-ngejar sisa-sisa pasukan armada persekutuan Gowa Wajo, karena sebagian besar sisa-sisa armada tersebut masih bersenjatakan meriam-meriam sehingga Belanda khawatir bahwa mereka sewaktu-waktu dapat menyerang armada dagang Belanda.

Masuknya Suku Bugis Makassar di Buleleng

Pada tahun 1690, Raja Buleleng yaitu I Gusti Ngurah Panji Sakti tertarik untuk memperluas daerah kerajaannya sampai ke Jembrana. Kabar bahwa Jembrana akan diserang oleh pasukan Raja Buleleng didengar oleh Raja Pancoran Jembrana. Raja Jembrana kemudian mengambil tindakan cepat dengan mengundang Daeng Nachoda selaku panglima pasukan penembak meriam untuk membahas persiapan dalam menghadapi serangan pasukan kerajaan Buleleng.

Dalam peperangan itu, pasukan Raja Buleleng mengalami kekalahan karena pasukan Raja Jembrana didukung penuh oleh pasukan Daeng Nachoda yang memang seorang panglima perang Kerajaan. Bahkan salah satu pimpinan pasukan Raja Buleleng, Ki Tamblang Sampun, dapat dikalahkan oleh panglima Daeng Sikudadempet dalam perang tanding yang sangat dahsyat.

Dengan tipu muslihat berupa kabar bohong (adanya ancaman wabah yang dapat menimpa rakyat Kerajaan Jembrana), maka Raja Jembrana rela menyerah tanpa berperang dan mengadakan perdamaian. Sementara kedua kerajaan menjalin persatuan persahabatan, masa-masa perdamaian ini dipergunakan sebagai kesempatan yang baik oleh Daeng Nachoda beserta anak buahnya untuk melebarkan sayap perniagaan ke Buleleng sambil berdakwah menyebarkan agama Islam.

Perahu-perahu Bugis Makassar mereka bertambah fungsi sebagai penghubung logistik perekonomian jalur Buleleng-Blambangan-Jembrana. Daeng Nachoda masih tetap memegang jabatan sebagai kepala pasukan meriam Bugis dan menetap di Bandar Pancoran (sekarang Kampung Terusan Kelurahan Loloan Barat). Sementara Daeng Bira menetap di Buleleng. Daeng Marema serta Daeng Sikudadempet tetap di Bandar Pancoran dan mulai mengajarkan serta melatih silat Bugis Makassar kepada masyarakat Jembrana.

Peran Masyarakat Kampung Bugis terhadap Kerajaan Buleleng

Dalam Geguritan Rosak Buleleng, UPTD Gedong Kertya (2001) menyebutkan, sebelum terjadinya Perang Puputan Jagaraga (Maret 1848), terlebih dahulu Belanda menyerang Kerajaan Buleleng pada hari Redita Paing Wuku Dungulan tanggal 25 Mei 1846. Belanda tidak berhasil menaklukkan Puri Buleleng karena rakyat Buleleng beserta rakyat Kampung Bugis berada di garis depan wilayah pesisir dalam mempertahankan wilayah Kerajaan Buleleng.

Pada saat itu, terjadi perang di darat dan banyak korban dari pihak Belanda sehingga Belanda mundur. Barulah pada serangan kedua kalinya, Belanda menyerang menggunakan meriam dari tengah laut menggempur pusat Kerajaan Buleleng. []

*) Penulis adalah Anggota Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng

Sumber Tulisan :

Bloch, Peter. 2007. Mads Lange: The Bali Trader and Peace Maker. Bali: The Bali Purnati Center for The Arts.

Sabara, Eka. 2018. Daeng Nachoda: Terdamparnya Skuadron Pasukan Kesultanan Wajo di Jembrana pada Abad ke-17. Surabaya: Program Studi Sastra Inggris Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *