Asal Usul Orang Bugis di Nusantara, Khususnya di Buleleng, Bali Utara

Esai Sejarah Dodi Irianto *)                     Bagian 1 – Bersambung

Versi Mads Lange

MADS Lange berlayar dari Denmark ke Samudra India dan China. Dia memang seorang nakhoda. Usinya 26 tahun waktu itu. Dalam pelayarannya tersebut, Mads Lange singgah di Singapura, di cabang dari perusahaan dagang Matheson & Company Hongkong. Kapalnya karam di Samudra Hindia bersama anak buahnya. Adik bungsunya yang berusia 15 tahun ikut jadi korban dalam peristiwa itu.

Selanjutnya Lange membangun kembali usahanya di Singapura, Macau, Canton, dan Hongkong. Dari sinilah Lange mengeksplorasi Bali dan Lombok guna melihat apakah hubungan dagang bisa dilakukan. Lokasi dua pulau ini sangat ideal. Jalur Bali dan Lombok yang sempit ini merupakan rute perdagangan dari Singapura, Batavia, dan Surabaya menuju Australia.

Pada waktu-waktu tertentu ada kapal-kapal datang dari Eropa ke Jawa melalui selat Bali dan Lombok. Rute ini sangat tergantung pada angin musim tahunan atau kondisi cuaca pada saat berlayar. Berdasarkan beberapa berita tentang kapal karam atau pecah menabrak karang karena berlayar melalui jalur ini. Karena itu, melewati jalur ini butuh navigator yang terampil. Sedikit sekali ada pelabuhan. Kalaupun ada harus masuk dari arah yang berbeda-beda karena perubahan arus air.

Bugis, Saudagar Laut

Sebelum hadirnya bangsa Eropa dalam dunia perdagangan ini, sebagian besar perdagangan dikendalikan oleh Cina, Arab, dan Bugis (saudagar pelaut). Di antara pelaut-pelaut ini, yang paling peka adalah pelaut Bugis. Orang-orang suku Bugis sangat tangguh dan paham dan sangat bersahabat dengan cuaca laut.

Mereka dari kalangan Islam yang aslinya berasal dari Makassar. Mereka tahu bagaimana berdagang dan barang dagangan apa yang bernilai di Timur dan di Samudra India. Sampai-sampai dalam bahasa Inggris disebut “Boogie Men” yang sangat berani membawa perahu-perahunya jauh ke tengah lautan untuk bersepakat dengan sesamanya terhadap serangan pemburu kepala dan kanibal, untuk memperoleh bulu dari berbagai spesies burung surga.

Stok perdagangan reguler adalah jual beli budak, pinjaman dengan bunga tinggi, dan bajak laut. Bila berlayar dengan muatan kosong, tak ada pilihan bagi mereka kecuali menyerang kapal yang lain, dan kapal yang kalah akan dikuasai dan anak buah kapalnya dijadikan budak dan dijual. Atau kalau melawan, dibunuh dan dibuang menjadi makanan ikan hiu.

Selama pengembaraan mereka berabad-abad melalui kepulauan Malaysia dan Indonesia, mereka membuat perkampungan di seluruh wilayah dengan senjata dan pedangnya. Tak lama setelah abad ke-19, kolonial Belanda dan Inggris mampu menekan sepak terjang mereka.

Mads Lange pernah bertempur melawan bajak laut Bugis ketika membela kepentingan perdagangannya di Lombok. Disebut pula oleh Nielsen dari Eropa terkait potensi perdagangan di pulau Bali dan Lombok, “Beberapa perusahaan Eropa dari Batavia dan Surabaya sedikit melakukan perdagangan di dua pulau ini. Dan tanpa keuntungan yang banyak dan tak seorangpun berhasil dalam perdagangan yang stabil. Terlalu banyak resiko yang dihadapi. Pelabuhan-pelabuhan hanya sedikit dan dengan pengamanan yang buruk serta pelayaran berbahaya dengan karang-karangnya yang tersembunyi dan badai yang sangat kuat mengancam para pelaut.”

Sistem Tawan Karang

Bila sebuah kapal pecah dan karam, semuanya hilang karena tradisi kuno menyatakan bahwa segala sesuatu yang kandas ke daratan/pantai, adalah milik raja setempat beserta rakyatnya. Dan pelaut akan beruntung apabila nyawanya masih tinggal. Bahkan di laut pun tidak aman karena lautan penuh dengan bajak laut Bugis dan Cina. Itulah sebabnya sangat penting bagi perusahaan Syden dipersenjatai dengan baik.

Pernyataan Nielsen

Lalu lintas perdagangan yang sibuk ini banyak memberikan pemasukan dan kesempatan pelayaran yang mudah untuk perdagangan. Saat itu juga adalah zaman keemasan bagi perburuan paus dan banyak pemburu paus dari Inggris dan Amerika melintasi jalur ini untuk mencari paus sperma. Lombok dan Bali adalah tempat dimana kapal-kapal ini mengisi logistiknya dan berbelanja.

Meskipun penduduk wilayah timur sedikit tetapi banyak ada beras dengan kualitas tinggi dan juga ternak, kopi, minyak kelapa, rempah-rempah, dan tembakau. Dalam waktu yang sama, kesempatan besar perdagangan besi dari Eropa dan Cina, kapas, opium, bubuk mesiu, dan senjata-senjata untuk perang yang sedang berlangsung antara penguasa yang berbeda dan uang kepeng tembaga dari Cina yang sering dipakai saat upacara di Bali dan sebagai alat tukar menukar.

Pada masa kekuasaan Belanda, meskipun kekuasaannya berpusat di Jawa, namun pulau-pulau di luar Jawa menjadi daerah ekspedisi (jajahan Bone – 1824, 1858, 1860; Perang Paderi Sumbar 1830 – 1837; Banjarmasin 1859 – 1853; Bali 1846 – 1848 – 1849). Mads Lange fokus ke Lombok karena produksi berasnya yang melimpah. Meskipun masyarakat Lombok aslinya suku Sasak, pulau ini diinvasi oleh kekuatan dari luar.

Sesuai dengan Lontar Selaparang, nama versi Hindu dari Lombok sebagai bagian Kerajaan Majapahit dari Jawa di abad 14 dan 15. Karena penolakan terhadap Kerajaan Majapahit di pertengahan dan di akhir abad ke-15 oleh perjuangan masyarakat muslim Makassar, jadilah perubahan kultur budaya. Belanda menjamin tentara untuk menguasai “Pagan” Sasak dengan kekuatan paksaan.

Ketika Portugis membangun pelabuhan di Lombok tahun 1512, maka orang-orang Makassar (Bugis) menjadi penguasa pulau Lombok. Pada abad berikutnya, Lombok menjadi ajang pertempuran antara Bugis dan orang Bali, dimana suku Sasak selaku pemilik wilayah mencoba memutuskan kemana harus berpihak. Adalah klan dari Karangasem (Bali Timur) yang mencari supremasi di pulau yang subur ini, tapi tak pernah terwujud sampai pada saat petinggi suku Sasak Wayan Tugu menikahi seorang wanita Karangasem.

Lagi-lagi budaya apa yang disematkan untuk Lombok, kita perlu melihat kembali Bali. Seorang antropologis terkenal Amerika Clifford Geertz menyimpulkan situasi ini secara ringkas: meskipun dengan keruntuhan Kerajaan Majapahit di abad ke-15, adat dan aturan yang berorientasi pada Hindu tetap berlangsung di Bali sejak itu, dari Gelgel, Klungkung, di bagian selatan pulau Bali dimana pertanian sudah ada menjadi pusat politik Bali.

Dewa Agung sebagai penguasa tertinggi dan memiliki wilayah. Di sekitarnya dan raja-raja lainnya dan penguasa yang lebih rendah merupakan susunan kekuatan dari pusat sampai ke seluruh pulau. Identitas politik dan keagamaan dilestarikan dalam awig-awig Bali. Berdasar pada pendapat bahwa Bali dibentuk oleh kekuatan terakhir kejayaan tradisi Hindu Jawa. Pelestariannya melibatkan politik isolasi berhadapan dengan dunia luar, karena kesadaran di Jawa bahwa Mataram dengan rasa Islamnya atau VOC memang serius memperlakukan bahwa tradisi Hindu – Jawa diarahkan dengan hati-hati.

Namun demikian, politik isolasi tidak begitu banyak berdasarkan kebijakan yang selaras dengan raja-raja Bali, hanya merupakan budaya kebersamaan bahwa negara Bali membentuk dirinya sendiri dimana pengaruh asing tidak diterima. Semua keluarga Kerajaan Lombok adalah anggota keturunan Karangasem dan oleh ahli linguistik yang terkenal Dr. R. Th Fraederick yang menjadi tamunya Mads Lange di akhir tahun 1840-an dalam risetnya menyatakan: “untuk menghormati klan ini, tidak ada negara yang berperang sebanyak perang Karangasem.

Telah disebutkan sebelumnya kemenangan atas Dewa Agung, Raja Gelgel dan keruntuhannya sebagai akibatnya adalah jalan tengah antara Buleleng dan Lombok dan keluarganya mungkin dan bahkan berakhir menjadikan dirinya penguasa Bali, Lombok dan Sumbawa. Tapi dari beberapa perang sipil, banyak pangeran-pangeran Karangasem tidak diakui oleh anggota keluarganya sendiri. []

*) Penulis adalah Anggota Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *