Identitas dan Sejarah Burdah Pegayaman

MELIHAT sebuah sekaa atau grup kesenian, akan memberikan gambaran pada usia sebuah desa dimana sekaa atau grup kesenian tersebut berkembang. Semakin klasik sekaa tersebut akan menunjukkan semakin terlihat berumurnya desa tersebut.

Pandangan ini bisa dijadikan sebagai sebuah metode juga dalam kajian kesejarahan berdirinya sebuah desa. Dengan memakai metode kajian seni budaya sebagai bagian untuk mengetahui asal muasal sebuah desa. Sebab, kesenian yang berkembang menjadi sebuah kebiasaan yang dibawa oleh komunitas yang baru menempati wilayah tersebut.

Salah satu kajian yang penulis kedepankan dalam melihat sejarah Desa Pegayaman adalah melalui seni burdah yang berkembang. Dan kesan yang muncul ketika melihat sepintas tentang burdah Pegayaman adalah dari tampilan fisik, tampilan syair, tampilan irama, dan tampilan karakter nuansa yang tercipta ketika dimainkannya seni burdah Pegayaman ini.

A. Tampilan Fisik Burdah Pegayaman

Dilihat dari pakaian yang digunakan. Pakaian pemain burdah Pegayaman yang digunakan adalah pakaian yang berkolaborasi dengan pakaian Bali. Rincian pakaian tersebut di antaranya, ikat kepala menggunakan udeng Bali. Baju, yakni baju yang umum dipakai di Bali berciri khas pakaian adat Bali.

Sedangkan sarung yang digunakan dipakai seniman burdah Pegayaman adalah sarung yang berciri khas Bali. Ada lipatan di depan dengan penggunaan sarung setengah di bawah lutut, dan lipatan kain sarung perempuan di depan yang disebut dengan lancingan.

Juga ketika dibutuhkan kain tersebut dibalut lagi dengan kain balutan yang difungsikan sebagai penutup luar (dodot). Terakhir diikat dengan sabuk besar yang terbuat dari kain batik.

Kebetulan motif pakaian Sekaa Burdah Burak Pegayaman mengambil motif baju yang pernah dipakai oleh punggawa Kerajaan Buleleng yang berasal dari Pegayaman, yaitu pakaiannya kumpi Pan Muhammad Musa di tahun 1865 M.

Artinya tampilan klasik dari para anggota Sekaa Burdah Pegayaman menantang para pengkaji sejarah untuk mencari tahu, dari mana sebenarnya warga Pengayaman ini.

B. Tampilan Syair Burdah

Syair burdah yang dibacakan oleh seniman burdah Pegayaman adalah syair yang diangkat dari syair burdah Albarzanji yang disusun oleh Imam Albusairi. Syair burdah ini kalau di Pegayaman bisa difungsikan menjadi dua, yaitu untuk pengobatan dan hiburan.

Untuk pengobatan dipakai bagi warga masyarakat yang sedang sakit, dan sakitnya sangat parah. Parahnya sakit warga yang membuat keluarga prihatin, hingga ketika kondisi sakit warga seperti ini, keluarga memanggil penghulu desa untuk memimpin pembacaan burdah dan diaminkan oleh jamaah yang diundang. Proses terapi dengan syair burdah tersebut bisa sampai tiga kali pertemuan. Insya Allah nanti ada jawaban dari terapi syair burdah ini. Yakni antara dipendekkan umur orang yang sakit atau dipanjangkan umurnya.

Sedangkan untuk syair yang digunakan sebagai hiburan, yakni dengan dinyanyikan diiringi dengan rebana burdah yang dibuat dan dimainkan oleh warga Pegayaman asli.

Rebana burdah dibuat dari bungkil/pangkal pohon kelapa, dan proses pembuatannya dilakukan oleh warga Pegayaman. Bahan yang dipakai yaitu bungkil kelapa, kulit sapi atau kulit kambing, besi lingkaran yang disesuaikan dengan besarnya rebana dan rotan yang sudah dibentuk menjadi tali rotan. Kemudian rotan utuh sebagai alat penyetem rebana agar suara rebana sesuai dengan keinginan.

Syair burdah dibacakan dengan bentuk irama yang khas, dan hampir menyerupai irama kidung Bali, dengan jumlah sampai dua puluh satu jenis lagu. Lagu-lagu tersebut yaitu Lagu Tue (tua), Lagu Kampar, Lagu Sulton Abdi, Lagu Sulton Rasul, Lagu Melayu, Lagu Mekonde, Lagu Melunsuran, Lagu Arab Nasip, Lagu Za’ranah, Lagu Belaluan, Lagu Kaliubi, Lagu Nganten, Lagu Salim Slam, Lagu Hul Maula, Lagu Laudan, Lagu Tarik Dayung, Lagu Masri, Eagu Ibad, Lagu Pahang, Lagu Parsi, dan Lagu Celandi.

Inilah nama lagu-lagu burdah yang berkembang di Pegayaman, dengan irama yang khas dan tanpa pernah ada perubahan dan modifikasi. Artinya lagu burdah Pegayaman orsinil sejak empat abad yang lalu.

Penekanan lagu yang sama sekali tidak ada modifikasi ini, membuat khas dan uniknya burdah Pegayaman. Tingkat kesulitan dalam mempelajari lagu burdah ini ada pada cara melagukan yang harus diimbangi dengan gerakan tangan sebagai penyeimbang pukulan rebana burdah. Pada setiap lagu dan irama yang dimainkan sangat berbeda pukulan rebananya, sebagai detakan tempo nada yang berirama khas burdah Pegayaman.

C. Tampilan Irama Burdah Pegayaman

Tampilan irama burdah Pegayaman sangat berbeda dengan burdah-burdah yang ada di Bali dan di daerah lainnya. Irama burdah Pegayaman terbentuk dengan adanya nilai akulturasi yang berkembang. Irama lagu yang kuat terasa pada burdah Pegayaman adalah irama kidung Bali. Gayah (cengkok) yang dimunculkan adalah gayah khas Pegayaman, yang keras dengan karakter Pegayaman yang tegas.

Ciri khas gayah pada irama burdah ini tampak pada saat dimulainya lagu dengan tahapan yang halus, sedang, menengah dan tinggi. Kemudian pada gayah di pertengahan, ada saling menyahut di antara dua pembaca dan penyampai irama yang menyanyikannya, dengan saling sahut menyahut, dengan tujuan agar lagu tersebut tidak terputus.

Burdah Osing Kemiren Blambangan, Banyuwangi

Di akhir lagu diiringi dengan ujung gayah yang terkesan unik dan khas yang tidak ditemui di irama-irama lagu lain. Untuk cengkok atau gayah ini merata di semua lagu dengan khas gayah yang sama di akhir lagu, dari 21 lagu yang ada.

D. Tampilan Karakter Sekaa Burdah

Dalam penampilan, para seniman burdah secara fisik sudah menunjukkan karakter yang berbeda dan khusus. Karakter yang muncul adalah karakter yang terkesan menampakkan Pegayaman secara kesejarahan. Penampilan fisik dengan kostum khas Bali, tapi membawa rebana, sebuah kolaborasi yang bernilai akulturasi sangat tinggi dan berusia.

Kemudian ketika membawakan lagu-lagu khas burdahnya, akan lebih memperkuat lagi kesan yang muncul dengan karakter Bali mule. Sementara syair yang dibawakan memunculkan nilai magis dan nuansa karomah yang sangat kuat.

Kekuatan karakter burdah inilah yang membawa Pegayaman dalam kontek seni yang berkualitas dengan nilai sejarah yang tinggi, dan menampakkan ujud sejarah Desa Pegayaman.

Dalam kaitan dengan sejarahnya, burdah Pegayaman dihitung dengan panjangnya waktu berdirinya Desa Pegayaman, yang berasal dari Kerajaan Blambangan. Pada tahun 1648 M, para panglingsir Pegayaman datang ke Buleleng. Setelah dilakukan penelitian ke wilayah Kemiren, Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur, penulis menemukan sekaa burdah di Blambangan yang sama karakternya dengan burdah di Pegayaman.


Penulis bersama Abdurrahim, Ketua Burdah Osing Kemiren Blambangan

Penulis sebagai peneliti dan penulis bisa menyimpulkan bahwa burdah Pegayaman berasal dari Blambangan, yang sekaligus sebagai asal muasal warga Pegayaman, dari Kerajaan Blambangan.

Dalam skripsi Ketut Daimudin Hasyi yang berjudul “Problematika Da’wah Islamiyah di Kabupaten Buleleng” disebutkan, bahwa dalam catatan dokumentasi Departemen Agama Kabupaten Buleleng, bahwa burdah Pegayaman didirikan pada tahun 1886 M.

Terlepas dari perbedaan tahun yang kami tulis, kenyataannya burdah Pegayaman sangat eksis di Pegayaman dan menjadi kebanggaan Pegayaman.

Untuk mempertahankan agar burdah Pegayaman tetap bertahan dan berjaya, maka kami melakukan regenerasi dengan cara menumbuhkan rasa bangga terhadap peninggalan para panglingsir dan membuat pelatihan-pelatihan burdah serta mempublikasi dengan masif, baik melalui media, facebook, dan lain-lain.

Sekaa Burdah Pegayaman merupakan sebuah kesenian yang mengedepankan kearifan lokal yang bersandar pada filosofi ‘Adat Berpangku Syara’ Bersandar Kitabullah’. Artinya, sekaa ini sebagai sebuah gambaran bagaimana para panglingsir Pegayaman tetap menerima semua budaya dengan standar dasar hukum yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. (y)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *