SEJARAH MASYARAKAT TIONGHOA DI KOTA NEGARA

Oleh Made Budi Darma, Editor Eka Sabara

Awal Mula Suku Tionghoa ke Jembrana

Sejarah awal riwayat kedatangan suku Tionghoa pertama pada zaman kekuasaan Baginda Tuanku Raja Jembrana, yang memerintah selaku Regent van Jembrana sejak tahun 1866 – 1906. Empat petualang Cina yang melarat membeli sebuah perahu Jung Nailan di Blambangan dengan maksud hendak menyeberang ke Jembrana, karena merasa tertarik dengan cerita-cerita orang-orang perahu Bugis yang mengatakan bahwa daerah Jembrana adalah daerah subur makmur sebagian hutan-hutannya belum digarap tangan manusia.

Lauw Hok Swie, selaku nahkoda perahu, tiga diantaranya adalah dari suku Hok-Kian bernama Go Jim Hing, Go Gwan Ang, The Kung Sing menjadi anak buah perahu menuju muara Perancak dan memasuki sungai Ijo Gading ke Pelabuhan Loloan. Pusat Perdagangan yang dikuasai oleh masyarakat pribumi beragama Islam asal Bugis dan Melayu serta beberapa suku Arabia berada di sekitar pelabuhan dan Pasar Loloan.

Setibanya mereka di sana, maka Go Jim Hing membuka warung di Loloan Timur dan mencoba menyesuikan diri dengan masyarakat pedagang Islam dan ketiga temannya hilir mudik dari Pelabuhan Banyuwangi – Negara membawa barang-barang dagangan berupa kelontongan, bahkan membawa penyu-penyu untuk dijual kepada masyarakat Bali – Hindu. Namun pemukimannya di Loloan Timur gagal disebabkan rasa antipati agama, juga pedagang-pedagang Islam berpendirian dengan kehadiran orang-orang Cina tersebut akan membawa pengaruh negative dalam usaha perniagaannya.

Go Jim Hing memindahkan usahanya di Loloan Barat tetapi bernaung sebagai warga Kerajaan di perbekekan Desa Lelateng. Di sini ia merasa lebih relevan dengan penduduk yang beragama Hindu – Bali yang mayoritas di Kerajaan Jembrana dan berkat keramah- tamahannya menjadi sahabat kelian desa, berkelanjutan dengan persahabatan dengan punggawa I Gusti Agung Pesatan.

Di banyak bidang Go Jim Hing dan kawan-kawannya dapat membuktikan jasa-jasa baiknya terhadap Baginda Raja Anak Agung Made Rai di Puri Agung Negara. Lambat laun mereka mendapat simpati dan kepercayaan masyarakat dalam memajukan perekonomian rakyat yang terbelakang pada waktu itu. Tenaga-tenaga mereka yang tidak memadai dalam pembangunan kota Negara, memerlukan pertambahan tenaga Cina.

Kemudian atas perkenan Baginda Raja berdatanganlah imigran-imigran baru dari suku Kwi-Tang ahli bangunan dan pertukangan. Mereka berperahu dari Banyuwangi dan Buleleng. Waktu itu Kerajaan Jembrana yang sedang membangun menjadi bagian dari Keresidenan Basuki yang beribukota di Banyuwangi. Pemerintah Hindia-Belanda masih belum memperhatikan daerah Bali Barat, khususnya Jembrana oleh karena dianggapnya masih liar penuh hutan belukar, berpenduduk sedikit dan tidak menguntungkan di bidang perdagangannya.

Ternak sapi dan kerbau yang dikirim ke Banyuwangi oleh pedagang-pedagang suku Arabia dengan angkutan perahu-perahu Bugis cukup mengembirakan pemerintah Hindia-Belanda di Banyuwangi. Dengan izin dibukanya rimba raya di Jembrana oleh Gubernur Jendral di Batavia (Jakarta) bertujuan menjadikan tanah-tanah agraris yang ekonomis, berdatanganlah imigran suku Jawa dan Madura dan beberapa suku Cina untuk mengadu nasib di sini.

Pada tahun 1878 tercatat dalam arsip tuan Residen Boersma di Banyuwangi, di afdeeling Jembrana hanya terdapat 15 kepala keluarga suku Cina yang berstatus “enderdaan vreemde oesterlingan“ (hamba rakyat Timur-Asing). Masyarakat Cina tersebut tidak mempunyai organisasi tertentu, melainkan pekerjaan masing-masing dengan sibuknya dalam pertukangan dan perdagangan dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk negeri yang beragama Hindu serta membayar pajak-pajaknya dengan patuh.

Masyarakat Cina yang berjumlah relative kecil itu, secara sederhana bekerja keras di bidangnya sendiri-sendiri, tunduk dengan peraturan-peraturan di desanya, bahkan dapat menyesuikan diri dengan adat-istiadat setempat. Mereka mendatangkan bibit-bibit babi di perternakan, juga bibit-bibit kacang cina untuk pertanian, mengajar pertenunan dengan mendatangkan benang sutra untuk dapat mengatasi kebutuhan pakaian yang di buat sendiri oleh masyarakat wanita pada jaman itu. Juga diperkenalkan mesin-mesin jahit tangan yang dijualnya di toko-toko bersahaja.

Perdagangan yang lazimnya sejak dahulu kala bersifat barter, tukar menukar berubahlah dengan perhitungan uang kepeng yang masih berlaku dan uang receh, rupiah dan ringgit perak Gubernemen Hindia-Belanda. Oleh Gubermen dibangunlah sebuah pelabuhan pantai Cupel pada tahun 1880, dimana lalu lintas selat Bali makin ramai dengan mempergunakan jukung-jukung besar di Banyuwangi.

Pegawai-pegawai inspeksi Gubernemen Belanda pada setiap bulan mengadakan pemeriksaan dan memungut upeti tanah di kota Negara, bermalam di pesanggrahan atau dinamakan Logement (Leji) dan pada pembangunan rumah-rumah perkantoran penjara diborongkan pada orang-orang Cina arsitektur pun menjadi Leveransior, bahan-bahan bangunan dan jembatan yang didatangkan dari Jawa.

Hubungan masyarakat Cina makin akrab dengan keluarga Puri, terjadilah perkawinan oleh putra Baginda Raja dengan seorang gadis Tionghoa. Hal ini menjadikan kekeluargaan yang semakin erat. Sewaktu ada orang Tionghoa meninggal dunia terkena penyakit atau usia tua, maka ia dikuburkan di Setra GONDA MAYU Negara (sekarang terkenal dengan kampung Sema Lelateng), hingga kini masih terdapat kuburannya berjumlah 5 orang.

Kesemua “Bong-Pay” (tanda pengenal yang wafat) terpahat pada batu pualam sudah rusak, hanya ada satu yang agak utuh bertuliskan huruf Cina The Tung Sing Kung Mu tahun angka tidak jelas karena rusak tetapi diperkirakan tahun 1883. Juga dikuburkan seorang bernama Lauw Cha Hee yang gundukan tanahnya sudah rusak kurang terpelihara keturunannya semenjak Kuburan Khusus Cina/Tionghoa dibangun pada tahun 1908 berdampingan dengan pekuburan Belanda atau umat Kristen suku Maluku.

Populasi masyarakat Tianghoa makin meningkat sejak tahun 1910 dengan kedatangan pedagang-pedagang baru dari Jawa memperkenalkan berbagai ragam barang-barang keperluan hidup jenis gerobak telah ditukar dengan jenis dokar dan bendi. Sepeda atau kereta angin diperkenalkan pertama kali oleh Tuan Jansen yang membuka kebun coklat di Loloan Barat sebelah barat kuburan Bali (kampung semo) Lelateng Negara, menyusul kemudian penjualan sepeda-sepeda.

Pada tahun 1906, Baginda Raja Jembrana Anak Agung Made Rai Wafat dan jenasahnya dikubur menurut adat-istiadat raja-raja di Bali dengan kebesaran dan kemuliaan. Banyaklah pula jasa Baginda dalam membangun kerajaannya sehingga Jembrana sangat terkenal akan kemakmuran dan kesejahteraannya. Terlebih pula dengan pembangunan jembatan sungai Ijo Gading pada tahun 1899 dan pembangunan jembatan lainnya mempermudah sarana angkutan produksi hasil bumi pedesaan dengan sarana jalan baru yang dibangun secara gotong-royong oleh rakyat.

Berkah bimbingannya pula pertambahan penduduk yang masih lowong diintensifkan semaksimal mungkin menuju pada potensi ekonomi yang lebih maju. Dalam gagasan tersebut masyarakat Tionghoa ikut memegang peranan. Sepeninggalan Baginda Raja Anak Agung Made Rai, Pemerintahan Gubernemen yang berpusat di Singaraja menghapuskan stelsel raja-raja di Bali, namun Jembrana dimasukkan Onderafdeeling Jembrana dibawah Kerisedenan Bali dan Lombok. Tiap-tiap Onder afdeeling (daerah bagian) dikepalai oleh seorang Kontroler Belanda yang dibantu oleh punggawa-punggawa dan aparatur pemerintan sekecil mungkin.

Residen Liefrinek Van Der Tuuk di Singaraja menulis dalam sebuah naskah dari Bali lastitut amat kabur informasinya dan soal Jembrana lebih jelas tulisan dari Van Wikkerman ex Residen di Banyuwangi. Kontroler Jembrana kepertama J.W Margadant mempergunakan masyarakat Tionghoa sebagai pedagang perantara (tsschenhandelaren) dan mengangkat Go Jim Wing sebagai Loo-Tia (kepala kampung cina) di negara dan mengatur pemukiman masyarakat Tionghoa dalam bidang keamanan dan ketertiban.

Bertahap sejak wabah inflensa tahun 1910 berdatanganlah keluarga-keluarga Tionghoa dari jawa. Kebanyakan peranakan dari yang totok. Mereka ini dikenal dengan nama Liem Ling Ping, Oei Kian Cang, Oei Gwat Lian, Tan Thiam Jin, Chan Tek Kiong, Ong Tian Lip, Tan Hok Gwan, Lie Siang Hoo, Lie khee Cay, Ong Siong Kwie, Cheng ka Hin, Thio A Kim, Thio A Siang, Thio A Nan (suku kwitang, tukang besi dan kayu), Tan Chelk Ka sekeluarga dan lain-lainnya yang dilupakan namanya.

Setelah pemukiman kampung Cina berjumlah kurang lebih 30 kepala keluarga di Lelateng dan Loloan Tengah pusat perdagangan dan pelabuhan perahu, maka mereka diperkenankan oleh Kontroler Van Kees membentuk suatu perkumpulan yang bernama “Hoa-Kiauw Siang -Hwee” (Perkumpulan Cina Perantauan) yang mengurus masalah sosial di bidang kematian, perkawinan, perdagangan dan pertukangan, derma untuk orang-orang sakit dan kecelakaan. Membangun sebuah gedung perkumpulan dengan tanah pekarangannya, membeli kereta mayat dan lain- lain yang berwujud social di masyarakat Negara.

Wabah kolera mengganas pada tahun 1918. Suami istri Oei Kian Ciang wafat di dalam kekayaannya, demikian pula Oei Gwn Lian namun Liem Ling Ping berpindah ke Banyuwangi menghindari wabah yang dahsyat itu. Anehnya orang-orang Tionghoa penghisap Candu/madat selamat dari wabah tersebut namun lambat laun mereka makin melarat akibat kecanduan yang berharga sangat mahal itu.

Loo-Tia Go Jim Hing meninggal diganti oleh Loo Tia Tan Thiam Jin yang mendadak kaya raya dengan rumah bertingkat Klasik Cina. Pabrik beras “Gwan Hin” yang semula milik kongsi berpindah tangan pan Chan Tok Kiong yang kemudian menjadi orang terkaya di Jembrana. Pada tahun 1924 terjadi pergantian Loo Tia yang lama dengan yang baru terlebih intelektual di bidang adminitrasi. Sebutan kepala kampung waktu itu adalah “Wijk Meoster” di Negara khusus Cina perantauan yang berdomisili di sini.

Reglement Hoa Kiauw Siang Hwee dalam permusyawaratan bersama diubah serta disesuaikan dengan perundang-undangan Hindia-Belanda yang lebih modern pun ditingkatkan sarana pendidikan rakyat menuju perekonomian sejahtera dalam “Krisis Malaise” yang sedang melanda dunia waktu itu.

Pada hangat-hangatnya pergerakan Partai Komunis dan Syarikat Islam (abangan) maka perkumpulan Hoa Kiauw Siang Hwee telah dibubarkan, akhirnya rumah Kong tersebut dapat dibeli oleh Nyonya Janda Oei Gwat Lian (Wak Taker). Seorang warga Negara Jepang bernama Ishibasi dapat menyewa rumah rumah Kong tersebut hampir dua tahun, namun ia angkat kaki kalah bersaing dengan pedagang Tionghoa.

Pada tahun 1929 berikutnya perkumpulan olah raga dan musik orkes pada rumah tersebut. Dan tahun-tahun berikutnya berdirilah sekolah Tiong Hwa Hwee Kwuan yang berkembang menjadi perkumpulan Cung Hwan Hwee. Setelah mengalami banyak peristiwa pada jaman pedudukan Jepang dan pada masa Revolusi Kemerdekaan hingga masa kini masa tahun 1980-an tidak ada satu organisasi masyarakat Tionghoa yang masih utuh. Apalagi BAPERKI yang telah dilarang pemerintah sejak tahun 1966. Faktor sosial masyarakat WNI dan WNA keturunan Cina setelah pergolakan -pergolakan G.30S/PKI. Hanya bersifat kekeluargaan senasib dan sepenanggungan meskipun ada beberapa keluarga yang kembali pulang ke Tiongkok negara asal. Dengan 2 pilihan menjadi Warga Negara Indonesia atau kembali ke RRC.

Pada Pelita I hingga Pelita III saat itu masyarakat WNI keturunan Cina/Tionghoa ikut aktif sehingga kota Negara tak kalah dengan kota-kota lainnya di Bali, bahwa masa depan Kota Negara makin mekar, meluas dan cerah perekonomiannya.

Perubahan Dalam Bidang Pemukiman

Perbedaan di lapangan ekonomi kecil sekali hampir tidak mungkin mengatasi anggota-anggota lain dari masyarakat Tionghoa karena kekayaan besar. Sebagai contoh di Kota Negara, kalau yang satu memiliki rumah yang lainnya memiliki rumah juga. Pengaruh dari sistem ekonomi modern, perkembangannya tidak begitu. Yang satu memiliki beberapa rumah dan gudang barang-barang, yang satu berkelompok dengan beberapa kepala keluarga mendiami satu rumah besar.

Pada saat itu disamping rumah penuh dengan lampu neon perabotan Lux dan disamping rumah kecil dengan pelita minyak tanah dengan perabotan bambu yang reot. Perbedaan ini disebabkan oleh kemampuan masing-masing individu adalah sebuah kewajaran. Seorang yang dipandang kaya dan terhormat saat itu kalau mereka banyak memiliki rumah pavilium, villa di pegunungan, uang dan benda-benda berharga. Sebuah pabrik atau sepuluh ribu pohon kelapa dan beberapa jenis kendaraan sepeda motor akan menaikkan derajat gengsi si pemilik di mata masyarakat.

Semenjak tahun 1948 dibangunlah sebuah pasar baru di persawahan Banjar Satria, Kelurahan Pendem, Negara sebelah timur sungai Ijo Gading. Mereka yang terdesak hidupnya di Kota Lama (Loloan Barat/Lelateng) memindahkan usaha tokonya makin ke utara dan timur.

Perkembangan selanjutnya menjadikan pasar baru di sebuah sentrum perdagangan yang ramai. Lama-lama kalahlah pedagang-pedagang di kota lama dalam persaingan, terlebih setelah dibangun sebuah terminal bus berdampingan dengan pasar yang baru.

Setelah gempa bumi tanggal 14 Juli 1976 dengan bantuan kredit pemerintah, kota Negara semakin meluas ke utara, timur, barat dan selatan dengan tempat pemukiman yang lebih luas dan indah. Perkantoran pemerintahan menjurus ke sebelah timur (sekarang Civic Center Taman Pecangakan) berbarengan dengan dibangunnya Jalan Bypass Denpasar – Gilimanuk dengan melintasi subak Pecangakan dimana pada bulan Januari 1979 Pusat Kantor Pemerintahan Kabupaten Tingkat II Jembrana diresmikan.

Pemukiman masyarakat Tionghoa yang sudah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dahulu berpusat di Pecinan (kampung Cina) Loloan Barat dan Lelateng, mereka berbaur dengan masyarakat di setiap banjar yang ada di kota Negara, bahkan mereka ini sangat sukses dalam usaha perdagangan dan industri.

Terjadilah pemukiman baru bagi pendatang-pendatang WNI keturunan Tionghoa berasal dari Kota Tabanan Buleleng, Denpasar, Pupuan, Karangasem bahkan dari Jawa. Mereka datang untuk berdagang, mengembangkan kebudayaan tetapi tidak untuk menjajah.

Pembentukan KongCo, Tempat Ibadah

Pembentukan KongCo untuk masyarakat Tionghoa di kota Negara sejak dahulu mengalami kegagalan oleh karena anggota masyarakat yang berbeda asal usulnya merasa terikat kebaktiannya kepada KongCo mereka di tempat asal kelahiran seperti Buleleng, Banyuwangi, Rogojampi, Probolinggo, Lasem, Semarang, atau Tabanan, Kuta dan Tanjung Benoa. Beberapa kali telah diusahakan pembentukan sebuah KongCo resmi yang diakui pemerintah setempat, pertama semasa Loo Tia Tan Tiam Jin (1923). Kedua pada masa Loo Tia Ong Siong Kwie (1932) terakhir pada masa Loo Tia Tan Siu Chiang, kesemuanya gagal. Yang ada adalah tempat persembahyangan pribadi pada tiap-tiap rumah tangga.

Berdirinya Organisasi Duka Dharma Semadi

Pada tahun 1966, setelah perkumpulan Cung Hwan Hwee di Jembrana bubar karena adanya larangan dari pemerintah Orba. Selama itu pula warga Tionghoa di Jembrana tidak memiliki organisasi satupun sehingga mereka bergabung dengan masyarakat Hindu/Bali ke Suka Duka Welas Asih di Lelateng Negara hingga tahun 1980-an. Tetapi tidak menyurutkan niat untuk berkumpul kembali menggagas pendirian arisan kematian secara gotong-royong yang dimotori oleh Foe Eng Guan, Tan Ping Min, Koh Cung A dan beberapa tokoh lainnya. Mereka membuat organisasi sederhana berupa arisan kematian dengan aset awal tanah perkuburan milik keluarga Nyonya Janda Oei Gwat Lian ( Wak Taker) yang sejak dahulu telah diwakafkan secara tidak langsung kepada warga Tionghoa yang berdomisili di Jembrana.

Berjalannya waktu sehingga pada tahun 1984 berdirilah organisasi secara resmi berbadan hukum dengan nama Perkumpulan Duka Dharma Semadi dengan Poe Eng Guan selaku ketua yang saat itu mendapat sebagian respon positif dari sebagian masyarakat Tionghoa. Yang tujuan utamanya membantu secara total dan finansial kepada warga Keturunan Tionghoa yang tidak mampu.

Berjalannya organisasi semakin kuat dengan inventaris sosial dan keanggotaan tanpa memandang status dan agama. Sehingga dengan pada tahun 1986 beberapa anggota berdonasi dan bergotong dapat membeli/menambah areal makan seluas + 40 are di sebelah utara kuburan lama dengan penataan dan peraturan yang lebih. (bs)

Foto Kota Negara tahun 1960-an. Kol koleksi Agus Beniq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *