DI TENGAH PANDEMI COVID-19, BENCANA ALAM JUGA MENGANCAM

DENPASAR – Bencana alam juga menjadi ancaman di tengah masyarakat fokus menghadapi pandemi Covid-19. Oleh karena itu, masyarakat diminta waspada terhadap ancaman bencana alam, seperti cuaca ekstrem, di tengah pandemi Covid-19.

“Total sampai akhir September kejadian bencana di Bali sebanyak 359. Itu didominasi oleh cuaca ekstrem, seperti puting beliung. Ada juga pohon tumbang, banjir, tanah longsor. Jadi di tengah kita fokus menghadpi pandemi Covid-19, perhatian kita dominan ke sana, tentu tidak boleh mengesampingkan ancaman bencana lainnya,” kata Kepala BPBD Provinsi Bali, Made Rentin, saat menjawab pertanyaan saat menjadi pembicara dalam Press Release Online Prakiraan Musim Hujan yang dilaksanakan Balai Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, Senin (5/10/2020).

Made Rentin

Rentin memaparkan, dari total kejadian selama 2020, yakni 359 kejadian bencana menelan korban 44 orang. Dengan rincian luka berat dan ringan 18 orang dan meninggal dunia 26. “Ini data yang kami himpun di Pusdalops BPBD Provinsi Bali,” jelasnya.

Ia menjelaskan, menghadapi kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem, pihaknya sudah mengantisipasi. Terutama terhadap potensi ancaman angin puting beliung, banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Menurutnya, BPBD mendorong gerakan partisipasi bersama masyarakat, untuk mengantisipasi ancaman bencana alam.

Misalnya untuk antisipasi banjir dengan melakukan pembersihan sungai dan saluran air. Juga menyiapkan sumur resapan. “Kami di perkantoran diwajibkan bikin satu sampai 3 sumur resapan,” jelasnya.

Pihaknya juga mengambil langkah-langkah kesiapsiagaan pemerintah bersama dinas terkait seperti menyiapkan, memutakhirkan dan mensimulasikan rencana kontigensi dan menyusun rencana operasi atau SOP-nya dengan melibatkan seluruh stakeholder, termasuk TNI/Polri. “Kami juga aktif memantau cuaca yang disampaikan BMKG,” paparnya.

Rentin juga menjelaskan, pihaknya juga menyiapkan sumber daya untuk sistem informasi daerah. “Kami sdang berbenah diri, bagaimana kami mengarah pada sistem informasi dalam kaitannya dengan kebencanaan yang berbasis digitalisasi. Sesuai arahan Gubernur, Bali harus menjadi smart island, smart city. One island management yang mengedepankan kemajuan teknologi,” ujarnya.

Kata dia, BPBD Provinsi Bali juga menyiapkan inaRISK, suatu aplikasi yang bisa untuk mengecek daerah yang mempunyai potensi bencana. Menurut Rentin, dengan inaRISK, di mana kita berada, ketika GPS sudah di-on-kan, kita akan langsung disajikan potensi apa yang akan terjadi. “Potensi risiko apa yang mungkin terjadi di sekitar kita berada. Apa yang akan terjadi di sana. Termasuk Covid-19. Sudah disinergikan di dalam sistem di inaRISK itu,” jelasnya.

Namun, diakui Rentin menghadapi bencana alam, personel Tim Reaksi Cepat (TRC) belum memadai. Hingga kini ada 30 personel. Padahal, kata dia, idealnya sekurang-kurangnya ada 10 tenaga TRC.

“Kalau dikalikan 9 kabupaten/kota minimal total ada 90 orang. Kami baru ada 30 orang TRC. Tentu ini jumlah yang jauh dari yang kami harapkan,” katanya. Sementara untuk peralatan, kata Rentin, perlu penambahan dari sisi kuantitas. “Kami upayakan pengadaannya dari APBD maupun mohon bantuan ke BNPB,” tandasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *